Aksi ASJ Merupakan Bentuk Kecintaan Terhadap Masyarakat Jember

2

ZONA JATIM, JEMBER – Wakil Bupati Jember, Drs. KH. Abdul Muqit Arief, menemui puluhan santri yang menggelar aksi damai di depan Kantor Pemkab Jember.

Dalam aksinya, santri yang beraksi tergabung dalam Aliansi Santri Jember (ASJ) menyampaikan keprihatinan atas tampilan talent atau pesohor Grand Carnival JFC pada Minggu, 04 Agustus 2019 lalu.

Wakil Bupati Jember Drs. KH. Abdul Muqit Arief meminta para santri untuk tetap menemani Pemerintah Kabupaten Jember dengan melakukan kontrol.

“Tetap ditemani, dikontrol sebagai bentuk kecintaan kita terhadap Jember dan masyarakat Jember,” kata Wabup usai menemui puluhan santri yang menggelar aksi damai di depan Kantor Pemkab Jember, Rabu (7/8/2019) pagi.

Menurut wabup, aksi yang dilakukan para santri itu merupakan bentuk kecintaan terhadap masyarakat Jember.

Lebih dari itu, Wabup menyebut aksi Aliansi Santri Jember itu bentuk penegasan identitas Kabupaten Jember sebagai kota religius.

Karena itu, Wabup memberikan apresiasi atas kehadiran para santri yang menggelar aksi damai tersebut.

Terkait aspirasi para santri, Wabup menjelaskan bahwa Pemkab Jember telah menggelar koordinasi dengan pihak manajemen JFC bersama pengurus PCNU Jember, PCNU Kencong, Muhammadiyah, Al-Irsyad, MUI, LPAI, FPI, dan lainnya.

Dalam pertemuan Selasa, 06 Agustus 2019, itu pihak JFC menyampaikan bahwa masukan-masukan dari para tokoh beberapa tahun lalu sudah menjadi pegangan JFC untuk tetap mempertahankan nilai-nilai ketimuran, dan akan disesuaikan dengan tradisi di Jember.

“Hanya saja, ada teledor, karena ada tamu yang ingin menghormati almarhum Dynand Fariz menjadi talent JFC, tapi pihak JFC tidak mengetahui kostum yang akan dikenakan. Ternyata busana kurang bagus untuk dilihat dan membuat masyarakat Jember resah,” terang Wabup.

Karena itu, JFC dan Pemerintah Kabupaten Jember sudah minta maaf kepada para kiai dan tokoh masyarakat. Pihak JFC pun berjanji hal seperti itu tidak akan terulang kembali.

Ke depannya, JFC akan mempresentasikan kostum yang akan ditampilkan kepada para tokoh di Jember untuk menghindari masalah serupa terjadi.

“Kegiatan apa saja yang digelar di Jember jangan sampai mengubah tradisi di Jember yang sangat melekat dengan budaya pesantren,” pesannya.

Koordinator aksi Fathurrahman kepada wartawan menyampaikan bahwa persoalan tentang kostum yang dipakai pesohor JFC telah selesai.

“Ketika JFC dibumbui oleh hal yang kurang pantas untuk ditontonkan, kami harus bersikap,” kata Fathurrahman.

Ia pun mengungkapkan dukungannya bagi JFC untuk dilestarikan. “Namun kami juga menyayangkan pada tahun ini terjadi keteledoran,”pungkasnya.