Batik Notonegoro Jember Tampilkan Designer Muda di JFS Fanthasion Show

2

ZONA JATIM, JEMBER – Batik Notonegoro Jember menampilkan designer termuda dalam Grand Final Event Jember Fashion Society (JFS) Fanthasion Show yang digelar di Atrium Lippo Plaza Jember, Sabtu (7/9/2019) malam.

Designer muda tersebut ialah Hellua Mukzy Maria Gasperz (16) asal Jember. Selain Hellua ada 40 designer tingkat Nasional dan 80 model yang lainnya yang ikut dalam kegiatan ini. Dan dari batik Notonegoro mengangkat tema Alam atau Back To Nature

Hellua mengatakan, dirinya ikut pada event JSF ini, selain tampil membawakan karyanya sendiri, ia juga ingin menambah ilmu dan pengalaman dalam dunia designer. “Saya sudah sejak kecil menjadi model, dan saat ini, saya belajar merambah ke dunia designer, memang pada malam hari ini saya selain designer, juga tampil sebagai modelnya, mungkin suatu saat nanti, kalau ada event lagi, saya harus duduk untuk menonton, sehingga bisa melihat dimana letak kekurangan rancangan saya,” ujarnya.

Pada JFS kali ini, Hellua menampilkan busana dengan motif batik, menurut Putri dari pemilik Griya Batik Notohadinegoro Indi Naidha Wulandari, busana batik ia tampilkan pada event kali ini, karena dirinya ingin menunjukkan kepada masyarakat, kalau batik tidak hanya untuk acara kondangan saja.

“Saya di JFS ini menampilkan busana batik, hal ini untuk menunjukkan kepada masyarakat, kalau batik itu bisa dipakai sehari-hari, tidak hanya saat kondangan saja, terlebih motif untuk batik sangat beragam, sehingga kita tidak kekurangan ide,” terangnya.

Terlebih tinggal di kota Jember, bagi perempuan berparas manis ini, ide untuk membuat motif batik sangat banyak, karena di Jember baginya banyak memberi inspirasi. “Saya melihat didaerah lain, untuk motif batiknya tidak sebanyak di Jember, kalau di Jember, kita bisa membuat batik dengan berbagai motif, seperti motif daun tembakau, pantai maupun dengan budaya lainnya, karena Jember adalah kota Pandhalungan,” jelasnya.

Sementara Amir Siddiq Anshari Event Directur Lippo Plaza selaku penyelenggara JSF menyatakan, bahwa kegiatan JSF ini memang digelar untuk membantu designer-designer daerah bisa tampil, terutama designer dari Jember.

“Awalnya kami juga membuka untuk tingkat pelajar SMK, ternyata peminat dari siswi SMK jurusan Designer masih belum banyak yang mendaftar, hanya ada beberapa saja yang mendaftar, itupun bukan dari Jember, tapi dari kabupaten disekitarnya, sehingga untuk kelompok pelajar kami close, dan kami batalkan, namun dengan event ini, saya berharap kedepannya ada siswa dari Jember yang ikut tampil,” ujarnya.

Maka kata Amir, dengan diadakanya show di Jember ini antusiasme peserta cukup tinggi. Karena rata – rata desaigner itu belum pernah show di Jember. Karena mereka mengetahui bahwa, Jember itu kota kecil. Jadi ketika kita tawarkan, apa ada yang akan menyelenggarakan show seperti ini? Apa run way -nya standart nasional selaku penyelenggara semaksimal mungkin agar show ini diterima dan kedepannya event tahunan yang mendatangkan kunjungan dari seluruh kota di Indonesia.

“Kami berharap bahwasannya, ketika jember dikenal sebagai kota karnaval dan kedepan bisa dikenal juga sebagai kota fashion dunia. Jadi jember punya event tahunan yang berkelanjutan selama satu tahun kedepan,”pungkasnya.