Keceriaan Anak di Tengah Banjir di Desa Wonoasri

JEMBER – Musibah banjir tak melulu identik dengan musibah, hal ini terlihat dari kecerian anak di tengah banjir yang terjadi di dusun kraton, desa wonoasri, kecamatan tempurejo, jember.

Dimana ada sosok mungil (anak – anak) yang seakan tak bergeming, tak ikut larut dalam duka nestapa para orang tua mereka yang mandi genangan air banjir di depan rumahnya.

Bahaya banjir boleh saja menimpa orang tua mereka atau siapa saja namun yang namanya keceriaan atau canda tawa yang mungkin muncul di tengah-tengah musibah tak bisa dihalang-halangi, mengalir begitu saja bak air bah, begitu kira-kira yang ada dalam pemahaman si anak.

Di saat orang tua mereka bersedih, anak-anak itu malah bersuka-ria sambil bermain-main dengan air banjir. Kebahagiaan apapun bentuknya, yang muncul di tengah-tengah musibah banjir itu terjadi secara spontan dan tak bisa dibeli dengan apapun.

Anak-anak mungkin tak menyadari bahwa bermain-main dengan air banjir itu bisa saja berakibat tidak baik. Berlama – lama kecek (berendam) dalam air banjir yang kotor itu tanpa membilasnya lagi dengan air bersih kadang menimbulkan penyakit gatal-gatal di kulit semacam eksim atau gudikan.

Banjir sering menyebabkan genangan-genangan air pada kubangan, ban dan kaleng bekas. Hal itu menjadi pemicu munculnya serangan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Air yang menggenang dalam ban dan kaleng bekas atau kubangan menjadi habitat bagi tumbuhnya nyamuk Aedes Aegypti. Dalam perut nyamuk berbahaya inilah terdapat virus dengue sebagai penyebab penyakit DBD itu.

Banjir yang menggenangi suatu kawasan dalam waktu yang cukup lama mengakibatkan sumur-sumur warga terinfiltrasi air kotor. Air sumur menjadi tercemar, sementara mereka menggunakan air sumur itu untuk keperluan minum, mandi, cuci dan masak. Air sumur untuk minum meski sudah direbus kadang masih tercemar bakteri penyebab penyakit diare (mencret) yang meraja lela saat terjadi banjir.

Anak-anak menikmati dunianya (bermain-main) secara wajar mungkin tidak terlalu menjadi masalah. Mungkin ada baiknya sedikit membiarkan anak tumbuh dan berkembang sesuai alamnya. Anak-anak merupakan kelompok usia yang sangat rawan.

Mengasuh anak terutama anak perempuan bukan perkara mudah, bila diibaratkan dalam pepatah Jawa “Ancik-ancik pucuk ing ri” (berdiri di atas duri, red). Coba bayangkan saja seperti apa jadinya bila kita berdiri atau berjalan di atas duri. Sebenarnya itu bukan sesuatu yang mustahil namun juga bukan pekerjaan yang mudah. Salah mengasuh (mendidik) anak maka celakalah sudah. Jadi harus ekstra hati-hati.

Anak merupakan aset keluarga sekaligus bibit atau calon generasi penerus bangsa. Sejak usia anak-anak (dini) itulah mulai ditanamkan nilai-nilai. (Dul/Mok).