Mencengangkan ! 29 Ribu Bayi di Jember Mengalami Stunting

2

Jember- Stunting mungkin istilah yang belum akrab di telinga warga Jember. Namun kondisi bayi stunting di Jember, angkanya ternyata cukup mencengangkan, bahkan sudah mencapai 29 ribu anak. Data bayi stunting prevalensi tahun 2017 tersebut dilansir oleh Dinas Kesehatan Pemkab Jember. Bayi stunting adalah bayi yang mengalami masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Menurut UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO. Selain pertumbuhan terhambat, stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, yang menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah yang buruk.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, ada 10 desa prioritas yang kini dilakukan pencegahan stunting melalui pengobatan kecacingan, diantaranya, Desa Ngampelrejo Kecamatan Jombang, Desa Purwoasri Kecamatan Gumukmas, Desa Glagahwero Kecamatan Panti, Desa Cangkring Kecamatan Jenggawah, Desa Tempurejo Kecamatan Tempurejo, Desa Jelbuk Kecamatan Jelbuk, Desa Patempuran Kecamatan Kalisat, dan Desa Gambiran Kecamatan Kalisat. Sedangkan data bayi stunting berdasarkan lokasi Puskesmas melalui operasi timbang tahun 2017 bisa dilihat dalam tabel. Sementara Kabupaten Jember, berdasarkan data prevalensi stunting di Jawa Timur tahun 2017 tertinggi ke-9 setelah Kabupaten Sumenep dan probolinggo.

Pemerintah Kabupaten Jember serius mengatasi masalah kesehatan tersebut, yang sering terjadi pada anak-anak dengan memberikan jaminan kesehatan. Bupati Jember Faida mengatakan, Kabupaten Jember masuk dalam kategori merah dengan jumlah bayi yang mengalami stunting. “Jumlah penduduk penduduk kita besar, maka dari itu lngkah pertama yang diambil melalui Peraturan Bupati (Perbup) dengan APBD diperuntukan agar balita di Jember dapat jaminan kesehatan,” ujarnya saat mengunjungi acara di Poltekes Malang Prodi Jember, Kamis (12/4)

Pelayanan kesehatan yang diberikan menurut Bupati Faida, bila ada balita yang belum mendapatkan asuransi akan diberikan BPJS Kesehatan dengan melalui Kartu Indonesia Sehat (KIS). “Balita stunting butuh perhatian untuk maka perlu diberikan jaminan dan pelayanan kesehatan,” ujarnya. Selain itu juga, Pemerintah Kabupaten Jember bersama Poltekes Malang Prodi Jember dan DPR RI Komisi 9 bersinergi untuk terus mensosialisasikan gerakan masyarakat hidup sehat. “Hidup sehat terus disosialisasikan agar masyarakat bisa mengerti bagimana hidup sehat yang seharusnya,” tuturnya. Indikator keberhasilannya menurut Faida, dapat dilihat dari perubahan pola hidup masyarakat yang terhindar dari penyakit menular dan tidak menular. “Jadi masyarakat harus makan sayur dan buah sebagai langkah menjaga pola hidup sehat,” tambahnya. Bupati perempuan pertama ini menambahkan, di setiap desa dan kecamatan harus terus menggerakkan terselenggara senam sehat serta pengadaan air bersih untuk masyarakat.

Tabel Angka Bayi Stunting di Puskesmas :

1. Jelbuk : 804
2. Arjasa : 1.042
3. Sumberjambe : 1.635
4. Mayang : 1.192
5. Paleran : 699
6. Cakru : 483
7. Rambipuji : 1.002
8. Kencong : 640
9. Sumberbaru : 1.218
10. Kasiyan : 955.