Juni 4, 2020, 14:44:24
Beranda blog Halaman 3

Lawan Covid Cara Ampuh, Gotong-royong Bangun Kampung Tangguh

Jember – Gotong royong telah terbukti menjadi kata kunci sukses Bangsa Indonesia. Kali ini pun, gotong royong menjadi kata kunci sukses untuk selamat bersama-sama menghadapi pandemi Covid-19.

Gotong royong menghadapi virus itu diwujudkan dengan Kampung Tangguh Covid-19. Kampung itu diantaranya di RW 10 Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang, dan di RW 15 Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates.

Bupati Jember, dr. Faida, MMR., saat meninjau menyebut bahwa kampung tersebut menjadi contoh bagi kampung lain dalam menghadapi persoalan bersama.

“Atas dasar semangat dan kesadaran warga serta leadership yang baik dari para Ketua RT RW dan Dasawisma, terciptalah kampung tangguh,” kata bupati di RW 10 Kelurahan Jember Lor, Selasa, 26 Mei 2020.

Kampung itu membuat portal untuk pemeriksaan bagi pengunjung yang masuk wilayah mereka. Selain itu terdapat lumbung pangan yang cukup bagi warga yang memerlukan isolasi mandiri.

Mereka juga mengatur mlijo atau pedagang kebutuhan pokok keliling. Ada tiga mlijo yang bertugas melayani kebutuhan rumah tangga warga.

“Sehingga masyarakat tidak perlu pergi ke pasar,” ungkap bupati didampingi Dandim 0824, Letkol Inf. La Ode M Nurdin, dan Kapolres Jember AKBP Aris Supriyono.

Bahkan di RW 10 Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang, kampung tangguh itu membuat aplikasi yang menjadi sarana komunikasi sampai 500 orang.

“Kalau jaman dulu pakai kentongan, sekarang pakai aplikasi. Sudah namanya RW jaman now,” tutur bupati.

Pemerintah Kabupaten Jember mengapresiasi kampung tangguh tersebut, dan berharap bisa menjadi contoh bagi kampung lainnya. “Gotong royong adalah kunci sukses bangsa Indonesia,” pungkas bupati.

Ratusan Pedagang Tradisional di Jember Di-Rapid Test

JEMBER – Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Jember Gatot Triyono mengatakan bahwa seluruh pedagang pasar tradisional yang dikelola oleh Pemkab Jember akan menjalani rapid test (tes cepat) Covid-19.

Rencananya, pada Kamis 28 mei 2020 jam 5.00 WIB akan dilaksanakan rapid test massal ke pedagang pasar antara lain di :

  • pasar bungur
  • pasar pelita
  • pasar kepatihan
  • pasar kreongan

Hal tersebut merupakan salah satu skema yang tengah digodok Pemkab Jember untuk mendeteksi dan mengendalikan penyebaran Covid-19 di kawasan pasar tradisional.

Gatot mengungkapkan, saat ini terdapat sedikitnya 5 ribu pedagang pasar yang resmi atau terdaftar.

“Semua pedagang pasar akan di-rapid test. Data yang ada sebanyak 2 ribu pedagang pasar yang lesehan dan kalau ditambah dengan pedagang yang ada di kios totalnya ada 5 ribuan pedagang,” urai Gatot kepada sejumlah awak media di kantornya.

Lebih lanjut, dia menerangkan bahwa pedagang yang menunjukkan reaktif pada rapid test nanti akan menjalani prosedur medis.

Yakni, menjalani pemeriksaan lanjutan, menjalani isolasi di rumah sakit, dan keluarga yang bersangkutan juga akan menjalani rapid test.

Sementara bagi pedagang yang menunjukkan nonreaktif (negatif) pada rapid test akan diberikan pin khusus.

Nantinya, pin tersebut akan menjadi semacam tanda bahwa yang bersangkutan dalam kondisi aman dari paparan Covid-19.

Selain itu, pin tersebut selanjutnya juga akan menjadi persyaratan agar pedagang tersebut diperbolehkan untuk berdagang di pasar.

“Namun hal ini masih sedang kami susun konsepnya. Apakah nanti berbentuk pin atau lainnya,” terangnya.

Selain itu, dia juga mengungkapkan bahwa Pemkab Jember sedang tengah mematangkan wacana usia pedagang yang diperbolehkan untuk berdagang di pasar.

“Yang boleh berdagang yakni usia di bawah 50 tahun. Karena yang lansia itu rentan terpapar Covid-19,” ujarnya.

Namun, dia mengakan bahwa bagi pedagang berusia 50 tahun ke atas akan mendapat perhatian dan insentif lebih dari pemerintah.

“Ketua Gugus Tugas (dr Faida, Red) tadi beroesan bahwa (pedagang pasar tradisional, Red) yang lansia nanti akan mendapatkan perhatian yang lebih dari lainnya,” terangnya.

Sementara berdasarkan update sebaran covid di Jember saat ini ada 28 warga terkonfirmasi positif, 166 PDP dan 575 orang tanpa gejala namun pernah kontak dengan warga terdampak covid.

Sepakat ! Pilkada Serentak 9 Desember 2020

JAKARTA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian,  bersama Komisi II DPR RI dan Penyelenggara Pemilu menyepakati pemungutan suara Pilkada Serentak untuk dilaksanakan pada 9 Desember 2020. Hal itu disepakati dalam Rapat Dengar Pendapat yang diselenggarakan melalui Video Conference pada Rabu (27/05/2020).

“Kesepakatan pemungutan suara pada 9 Desember (2020) tentu diambil berdasarkan pertimbangan dari Penyelenggara Pemilu dalam hal ini KPU, dan juga atas saran dan dukungan dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19,” kata Mendagri.

Pemungutan suara yang semula diselenggarakan pada 23 September 2020 menjadi 9 Desember 2020 tersebut berimplikasi pada tahapan Pilkada yang juga bergeser menjadi 15 Juni 2020. Meski demikian, hal tersebut harus dijamin dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat sehingga tidak mengganggu keselamatan, kesehatan, dan proses demokrasi yang berjalan di 270 daerah.

“Protokol kesehatan dan koordinasi dengan Gugus Tugas tetap harus dijalankan, sehingga pada saat dimulainya kembali tahapan pada 15 Juni nanti, semuanya berjalan sesuai dengan prosedur protokol kesehatan,” ujarnya.

Adapun poin kesepakatan Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Mendagri bersama Komisi II DPR RI dan Penyelenggara Pemilu tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, berdasarkan penjelasan yang disampaikan oleh KPU RI, Iangkah-Iangkah kebijakan dan situasi pengendalian oleh pemerintah, termasuk saran, usulan, dan dukungan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 melalui Surat Ketua Gugus Tugas Nomor B196/KA GUGAS/PD 01 02/05/2020 Tanggal 27 Mei 2020, maka Komisi II DPR RI bersama Mendagri RI dan KPU Rl setuju pemungutan suara serentak dilaksanakan pada 9 Desember 2020 sesuai dengan Perppu Nomor 2 Tahun 2020 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota menjadi Undang-Undang.

Kedua, Komisi II DPR RI menyetujui usulan perubahan Rancangan Peraturan KPU RI Tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 15 Tahun 2019 Tentang Tahapan, Program dan Jadwal Penyelenggaraan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tahun 2020 yang tahapan lanjutannya dimulai pada 15 Juni 2020, dengan syarat bahwa seluruh tahapan Pilkada harus dilakukan sesuai dengan ProtokoI Kesehatan, berkoordinasi dengan Gugus Tugas Covid-19, serta tetap berpedoman pada prinsip-prinsip demokrasi.

Ketiga, Komisi II DPR RI meminta kepada KPU RI, Bawaslu RI, dan DKPP RI untuk mengajukan usulan tambahan anggaran terkait Pilkada di  Provinsi, Kabupaten, dan Kota secara lebih rinci untuk selanjutnya dibahas oleh Pemerintah dan DPR RI.

Puluhan Jurnalis di Jember Di-Rapid Test, Ini Hasilnya . . .

Jember – Pemkab Jember terus melakukan pencegahan terhadap pandemi wabah virus corona. Salah satu langkah krusial yakni melakukan rapid test terhadap para tenaga medis dan non tenaga medis termasuk kalangan jurnalis.

Secara serentak melakukan Rapid Test di kantor-kantor pelayanan publik dan ke sejumlah warga yang rentan terkena corona.

Pelaksanaan Rapid Test untuk jurnalis berlangsung di Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Pemkab Jember. Rapid Test tersebut di ikuti oleh wartawan dari berbagai media dan organisasi, yakni diantaranya dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Komunitas Jurnalis Independen (KJI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Tapal Kuda, dan Forum Wartawan Lintas Media (FWLM).

Dari jumlah data wartawan yang masuk ke Dinas Komunikasi dan Informatika, yang tercatat yakni 140 wartawan dari berbagai media dan organisasi yang ada di Jember.

Kepala Dinas Komunikasi dan Infromatika Pemkab Jember Gatot Triyono menyampaikan, hari ini secara serentak dilakukan Rapid Test di lingkungan pemkab Jember, terutama di kantor-kantor pelayanan publik seperti Dispendukcapil, PTSP dan beberapa kantor lainnya, untuk Infokom sendiri ada 17 karyawan dan staf, ditambah mitra kerja dari wartawan yakni sekitar 59 orang.

“Jumlah wartawan yang mengikuti rapid test hingga menjelang batas waktu yang ditentukan, yakni sampai pukul 13.30 WIB, jumlah wartawan yang mengikuti rapid test tidak lebih dari 59 orang. Alhamdulillah hasilnya non reaktif semua,” ujar Gatot, Selasa (26/5).

Sementara Komunitas Jurnalis Independen (KJI) Jember Dody Bayu Prasetyo menyambut positif fasilitasi Pemkab Jember terhadap jurnalis tersebut. “Kami salut Diskominfo Jember, rapid test ini tidak mudah dan murah lho. Tinggal kesadaran jurnalis sekarang untuk patuh protokol kesehatan termasuk mau menjalani rapid test gratis ini, apalagi kita kelompok rentan terhadap covid,” kata Dody. Dia juga berharap bagi jurnalis yang belum bersedia rapid test, maka bisa berkoordinasi dengan pihak terkait karena tes tersebut sangat berguna bagi masyarakat dan keluarga jurnalis agar terhindar dari corona.

Lansia Lumpuh dan Difabel Dapat Bantuan dari Bupati

Jember – Bupati Jember, dr. Faida, MMR, pada Sabtu, 23 Mei 2020, menyerahkan secara langsung bantuan kepada anak difabel dengan kondisi cacat berat dan lansia kondisi lumpuh.

Bantuan diserahkan ke keluarga yang merawat.

“Mereka memerlukan ekstra dukungan, karena keluarga sudah mandiri merawat,” kata bupati di sela-sela penyaluran bantuan.

Kepada wartawan, bupati menyebut bantuan itu berasal dari belanja tidak terduga atau BTT di APBD Kabupaten Jember tahun anggaran 2020.

Seperti diketahui, BTT untuk penanganan Covid-19 sebesar Rp. 479,4 miliar. Anggaran ini digunakan dalam beberapa program. Salah satunya bantuan untuk lansia dan difabel ini.

“Hampir sekitar 200 keluarga yang merawat lansia dan anak-anak cacat berat. Hari ini kami antarkan ke rumah, sambil melihat kondisi dan mencocokkan apa yang mereka butuhkan,” ungkap bupati.

Bantuan yang diberikan berupa paket sembako, diapers, dan uang tunai sejumlah total Rp. 2,4 juta untuk keperluan bulanan bagi masing-masing anak cacat berat dan lansia lumpuh.

Di samping itu, mereka mendapatkan bantuan BPJS Kesehatan gratis. Keluarga mereka juga ikut terdukung oleh BPJS Kesehatan.

“Dari sebagian yang saya cek, sudah dapat alat bantu jalan, tongkat, kursi roda,” ujar bupati.

Bupati juga menjelaskan bahwa sebelumnya telah mendistribusikan bantuan serupa melalui kecamatan, kelurahan, dan desa untuk 3 kelompok, yaitu keluarga lansia, difabel, dan warga yang terdata di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial atau DTKS.

Hari Raya Idul Fitri, Pasien Sembuh COVID-19 Bertambah Jadi 5.402 Orang

JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 mencatat jumlah penambahan pasien sembuh COVID-19 per hari ini Minggu (24/5) bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri, ada sebanyak 153 orang sehingga totalnya menjadi 5.402. Sedangkan terkonfirmasi positif menjadi 22.271 setelah ada penambahan 526 orang dan kasus meninggal menjadi 1.372 dengan penambahan 21 orang.

“Kasus sembuh 153 orang pada hari ini sehingga total menjadi 5.402 orang.” ungkap Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 Achmad Yurianto dalam keterangan resmi di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Minggu (24/5).

Adapun akumulasi data kasus tersebut diambil dari hasil uji pemeriksaan spesimen sebanyak 248.555 yang dilakukan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) di 85 laboratorium, Test Cepat Melokuler (TCM) di 40 laboratorium dan Laboratorium jejaring (RT-PCR dan TCM) di 149 lab. Secara keseluruhan, 179.864 orang telah diperiksa dan hasilnya 22.271 positif dan 157.593 negatif.

Kemudian untuk jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) yang masih dipantau ada sebanyak 42.551 orang dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang masih diawasi ada 11.389 orang. Data tersebut diambil dari 34 provinsi dan 404 kabupaten/kota di Tanah Air.

Berdasarkan data yang diterima Gugus Tugas, untuk sebaran kasus sembuh dari 34 Provinsi di Tanah Air, DKI Jakarta tertinggi yakni 1.586 kemudian Jawa Barat 479, Jawa Timur sebanyak 465, Sulawesi Selatan 456, Bali 293, dan wilayah lain di Indonesia sehingga total mencapai 5.402 orang.

Kriteria pasien sembuh yang diakumulasikan tersebut adalah berdasarkan hasil uji laboratorium selama dua kali dan ketika pasien tidak ada lagi keluhan klinis.

Kemudian, lima provinsi dengan angka kasus positif terbanyak adalah Provinsi DKI Jakarta dengan total kasus 6.634 disusul Jawa Timur sebanyak 3.663 Jawa Barat 2.091, Jawa Tengah 1.309, Sulawesi Selatan 1.296 dan wilayah lain di Indonesia sehingga total mencapai 22.271orang.

Selanjutnya Gugus Tugas merincikan data positif COVID-19 lainnya di Indonesia yaitu di Provinsi Aceh 19 kasus, Bali 394 kasus, Banten 789 kasus, Bangka Belitung 39 kasus, Bengkulu 69 kasus, Yogyakarta 226 kasus.

Selanjutnya di Jambi 95 kasus, Kalimantan Barat 168 kasus, Kalimantan Timur 276 kasus, Kalimantan Tengah 308 kasus, Kalimantan Selatan 599 kasus, dan Kalimantan Utara 164 kasus.

Kemudian di Kepulauan Riau 154 kasus, Nusa Tenggara Barat 478 kasus, Sumatera Selatan 736 kasus, Sumatera Barat 478 kasus, Sulawesi Utara 230 kasus, Sumatera Utara 311 kasus, dan Sulawesi Tenggara 215 kasus.

Adapun di Sulawesi Tengah 121 kasus, Lampung 109 kasus, Riau 111kasus, Maluku Utara 100 kasus, Maluku 159 kasus, Papua Barat 130 kasus, Papua 556 kasus, Sulawesi Barat 86 kasus, Nusa Tenggara Timur 79 kasus, Gorontalo 58 kasus dan dalam proses verifikasi lapangan 21 kasus.

Ditengah Pandemi Covid19. Lebaran Paling Bersejarah dan Silaturahmi Tetap Terjaga

Jakarta – Hari Raya Idul Fitri tahun ini tak seperti tahun sebelumnya. Ditengah wabah pandemi covid19, masyarakat Indonesia mesti patuh terharap protokol kesehatan yang telah ditentukan pemerintah. “Lebaran kali ini adalah lebaran paling bersejarah di sepanjang zaman. Ini karena, umat muslim di seluruh dunia harus merayakannya di tengah pandemi wabah virus mematikan”, kata Sonny T Danaparamita, Anggota DPR RI Komisi VI dari Fraksi PDI Perjuangan.

Pada Hari Kemenangan umat Nabi Muhammad SAW ini, menurutnya menjadi momen langka dan memungkinkan menjadi satu-satunya sejarah peradaban manusia. Selain dihimbau shalat Idul Fitri di rumah masing-masing, juga tidak memungkinkan mudik maupun silaturahmi berjabat tangan langsung sesama umat.

“Dengan segala rasa syukur, meski di tengah wabah Covid-19, Lebaran ini harus tetap kita syukuri dengan semua nikmat Allah yang sudah dikaruniakan,” kata Sonny yang juga mantan Kepala Badan Pemenangan Pemilu DPD PDI Perjuangan Jawa Timur ini.

Dalam Lebaran kali ini, menurut politisi yang berangkat dari Dapil Jatim 3 ini, mungkin takkan meriah seperti biasanya. Gang di perkampungan tidak akan banyak dijumpai orang. Rumah-rumah tetap terbuka meski jarang tetangga yang bersafari silaturahmi secara fisik. Kue di dalam toples bakal masih rapat-rapat tertutup.

Sebagian keluarga pastinya tidak lagi memasak masakan khas Lebaran karena kondisi ekonomi yang terdampak. Tradisi baju baru mungkin juga tidak ada kali ini. Dan sebagian masyarakat, mungkin juga tidak bertemu dengan keluarga karena peraturan darurat protokol kesehatan cegah virus covid dari pemerintah.

“Bagi masyarakat yang memilih bertahan di perantauan, keputusan itu sudah tepat. Itulah cara paling tepat menyayangi keluarga,” katanya.

Meski demikian, tidak mengurangi hikmat dan kenikmatan perayaan Idul Fitri yakni dengan saling meminta maaf secara virtual. Walaupun takut untuk bersentuhan dan harus jaga jarak, namun meminta maaf bisa dilakukan secara lisan atau tertulis tanpa harus bertatap muka.

“Mari kita manfaatkan teknologi saat ini untuk bersilaturahmi. Yang penting niat kita tulus meminta maaf, meski sebatas lewat sebait pesan elektronik,” ujar Wakil Rakyat dari Daerah Pemilihan Jatim 3 meliputi Kabupaten Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso ini.

Disisi lain, sangat disayangkan bagi mereka yang tetap ngeyel menjalankan safari silaturahmi, Sonny berpesan untuk tetap menerapkan protokol pencegahan penularan. Yakni dengan memakai masker dan menghindari kontak tubuh secara langsung.

Bermaaf-maafan tentunya identik dengan salam-salaman, namun momentum itu dapat diganti dengan metode yang sesuai dengan anjuran physical distancing dari pemerintah. Yakni dengan berucap salam dan meminta maaf tanpa melakukan kontak fisik.

“Pakai maskernya, jaga jaraknya dan tetap jalin silaturahmi meski tanpa bertemu dan bersentuhan,” pesan Sonny. Pihaknya juga berkeyakinan, selalu ada hikmah di balik suatu musibah.

Dia berharap, agar semangat masyarakat Indonesia yang erat dengan budaya ketimuran dan kental silaturahmi ini tidak pernah padam. Dengan kesadaran dan rasa saling peduli, akan menjadi patokan pencegahan penularan dari diri masing-masing.

“Indonesia tetap semangat, bersama-sama kita berjuang. Indonesia tidak pernah kalah, dan kita bukan bangsa yang lemah,” katanya.

Dalam kesempatan ini, dirinya juga ingin mengucapkan selamat kepada seluruh masyarakat Indonesia yang telah merayakan Lebaran yang tahun ini cukup beda yakni di dalam rumah.

“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H Tahun 2020 kepada seluruh masyarakat. Mohon maaf bila ada perjuangan kami yang belum maksimal. Kepada struktur PDI Perjuangan dan seluruh kader partai, semoga ke depannya tetap pada jalan ideologi yang bermuara pada keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kita harus selalu ingat pesan ibunda Hj. Megawati Soekarnoputri agar terus solid bergerak untuk Indonesia Raya,” tandas Sonny T Danaparamita. (*)

Rapid Test di 9 Pasar-Pusat Belanja, 6 Warga Banyuwangi Reaktif

BANYUWANGI – Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Banyuwangi kembali menggelar rapid test masal, Sabtu (23/5/2020), di 9 pasar tradisional dan pusat perbelanjaan. Uji cepat ini menyasar ratusan pedagang dan pengunjung pasar tradisional dan pusat perbelanjaan. Hasilnya, ditemukan 6 orang yang reaktif.

”6 Orang yang reaktif itu langsung diisolasi mandiri. Ada 3 pria, 3 perempuan. Selanjutnya akan dilakukan protokol Covid-19, yaitu dites uji usap atau swab tenggorokan,” ujar Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Banyuwangi, dr Widji Lestariono.

Rio, sapaan akrabnya, menambahkan, rapid test di 9 titik tersebut menyasar 354 pedagang dan pengunjung. Lokasi rapid test antara lain Pasar Banyuwangi, Pasar Genteng, Mitra Rogojampi, Vionata, Ramayana, Mitra Jajag, KDS Genteng, Pasar Rogojampi, dan Sun East Mall. ”Tempat-tempat itu bisa dibilang sebagai pusat aktivitas warga Banyuwangi, makanya kami sasar. Ditemukan 6 reaktif, yaitu 2 orang di Pasar Banyuwangi, 3 orang di Pasar Rogojampi, dan 1 orang di swalayan Mitra Rogojampi,” ujar dokter alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tersebut.

Rio menjelaskan, tidak semua orang di pasar tradisional, swalayan, serta mal diminta menjalani rapid test. Pihaknya memprioritaskan warga yang berusia lanjut, sekitar 45 tahun ke atas. “Sebelumnya, mereka kami cek suhu tubuh. Lalu kami minta mereka mengikuti rapid test. Mereka yang tidak memakai masker dan berkerumun, juga kami arahkan rapid test, sekaligus untuk shock therapy agar disiplin memakai masker,” terangnya.

Salah seorang pedagang pasar yang mengikuti rapid test ini adalah Sulistya. Perempuan berusia 68 tahun ini mengaku tidak keberatan diambil darahnya untuk dilakukan rapid test. “Ya agak khawatir, tapi tidak apa apa kok. Toh untuk kesehatan juga, saya berharap hasilnya ya negatif saja (non reaktif),” ujar penjual ayam tersebut.

Ditambahkan Rio, rapid test massal digelar untuk mencegah penularan virus Corona di wilayahnya. Menurut dia, pusat-pusat perbelanjaan rawan menjadi klaster baru karena dipadati orang dalam sepekan terakhir bulan Ramadhan. “Satu minggu terakhir ini orang terus memadati pasar dan swalayan. Oleh sebab itu, kami waspadai pusat-pusat perdagangan untuk mencegah klaster baru,” tandasnya.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan juga melakukan rapis test massal ke 225 tenaga kesehatan di seluruh wilayah Banyuwangi. ”Ada 22 orang yang reaktif, langsung diisolasi mandiri, dan sudah dilakukan tes swab, kini tinggal menunggu hasilnya,” ujar Rio. ”Setelah Lebaran, kami terus mengagendakan rapid test masal untuk mendeteksi dini dan memutus mata rantai penularan Covid-19,” ujarnya. (*)

Kasus Positif COVID-19 Bertambah 949 Orang, Penularan Masih Banyak Terjadi

JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 mencatat jumlah penambahan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 per hari ini Sabtu (23/5) pukul 12.00 WIB bertambah 949 orang sehingga totalnya menjadi 21.745. Sedangkan pasien sembuh menjadi 5.249 setelah ada penambahan 192 orang dan kasus meninggal menjadi 1.351 dengan penambahan 25 orang.

“Konfirmasi COVID-19 yang positif naik sebanyak 949 orang, sehingga totalnya menadi 21.745 orang, sembuh meningkat 192 orang, sehingga menjadi 5.249 orang, meninggal 25 orang, sehingga menjadi 1.351 orang,” ungkap Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 Achmad Yurianto dalam keterangan resmi di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Sabtu (23/5).

Melihat adanya penambahan kasus konfirmasi positif yang tinggi, Yuri mengatakan hal itu berarti penularan masih terjadi.

“Penularan masih banyak terjadi,” katanya.

Adapun akumulasi data kasus tersebut diambil dari hasil uji pemeriksaan spesimen sebanyak 239.740 yang dilakukan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) di 69 laboratorium, Test Cepat Melokuler (TCM) di 39 laboratorium dan Laboratorium jejaring (RT-PCR dan TCM) di 149 lab. Secara keseluruhan, 176.035 orang telah diperiksa dan hasilnya 21.745 positif dan 154.290 negatif.

Kemudian untuk jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) yang masih dipantau ada sebanyak 49.958 orang dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang masih diawasi ada 11.495 orang. Data tersebut diambil dari 34 provinsi dan 399 kabupaten/kota di Tanah Air.

Berdasarkan data yang diterima Gugus Tugas, lima provinsi angka kasus positif terbanyak adalah Provinsi DKI Jakarta dengan total kasus 6.515 disusul Jawa Timur sebanyak 3.595 Jawa Barat 2.045, Jawa Tengah 1.288, Sulawesi Selatan 1.264 dan wilayah lain di Indonesia sehingga total mencapai 21.745 orang.

Kemudian untuk sebaran kasus sembuh dari 34 Provinsi di Tanah Air, DKI Jakarta tertinggi yakni 1.564 kemudian Jawa Barat 471, Jawa Timur sebanyak 426, Sulawesi Selatan 423, Bali 287, dan wilayah lain di Indonesia sehingga total mencapai 5.249 orang.

Kriteria pasien sembuh yang diakumulasikan tersebut adalah berdasarkan hasil uji laboratorium selama dua kali dan ketika pasien tidak ada lagi keluhan klinis.

Selanjutnya Gugus Tugas merincikan data positif COVID-19 lainnya di Indonesia yaitu di Provinsi Aceh 19 kasus, Bali 388 kasus, Banten 768 kasus, Bangka Belitung 39 kasus, Bengkulu 69 kasus, Yogyakarta 225 kasus.

Selanjutnya di Jambi 91 kasus, Kalimantan Barat 168 kasus, Kalimantan Timur 274 kasus, Kalimantan Tengah 292 kasus, Kalimantan Selatan 590 kasus, dan Kalimantan Utara 163 kasus.

Kemudian di Kepulauan Riau 150 kasus, Nusa Tenggara Barat 474 kasus, Sumatera Selatan 725 kasus, Sumatera Barat 443 kasus, Sulawesi Utara 201 kasus, Sumatera Utara 294 kasus, dan Sulawesi Tenggara 215 kasus.

Adapun di Sulawesi Tengah 121 kasus, Lampung 105 kasus, Riau 110 kasus, Maluku Utara 99 kasus, Maluku 157 kasus, Papua Barat 129 kasus, Papua 494 kasus, Sulawesi Barat 86 kasus, Nusa Tenggara Timur 79 kasus, Gorontalo 49 kasus dan dalam proses verifikasi lapangan 21 kasus.

Tekan Peningkatan Positif Covid-19, Mall dan Pasar Tradisional di Jember Ditutup Seminggu

Jember- Terjadi peningkatan yang signifikan terhadap jumlah pasien konfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Jember. Peta persebaran wabah oleh virus korona ini juga semakin meluas.

Hingga 22 Mei 2020, jumlah terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak 25 orang. Mereka ini berada di 17 kecamatan atau lebih separuh dari jumlah kecamatan di Kabupaten Jember. Mereka berasal dari 19 desa/kelurahan.

Bahkan dua orang terkonfirmasi positif Covid-19 telah meninggal.

Di samping itu, data pasien dalam pengawasan atau PDP lebih banyak. Jumlahnya mencapai 143 orang.

Dan, masih ada 242 orang orang dalam pantauan atau ODP yang dipantau. Serta ada 1.162 orang dengan risiko atau ODR yang masih dipantau. Mereka ini berada di seluruh desa / kelurahan dan 31 kecamatan di Bumi Pandhalungan.

Sementara orang tanpa gejala atau OTG mencapai 464.

“Di sisi lain, masyarakat menunjukkan kondisi riskan penularan dan penyebaran virus yang berbahaya itu,” kata Gatot Triyono, humas Gugus Tugas Percepatan Penanganan Vovid-19 Kabupaten Jember.

Fenomena masyarakat itu terlihat di mall atau pusat perbelanjaan dan pasar tradisional.

Melihat fenomena itu, lanjut Gatot, Pemerintah Kabupaten Jember mengambil kebijakan untuk mencegah terjadinya risiko penularan infeksi korona itu.

Pencegahan itu dilakukan dengan mengeluarkan surat edaran (SE) yang ditujukan kepada pengelola mall atau pusat perbelanjaan dan pengelola pasar tradisional.

Dalam SE tertanggal 22 Mei 2020, Bupati Jember, dr. Faida, MMR., mengeluarkan instruksi kepada pengelola pusat perbelanjaan dan pasar tradisional untuk melakukan beberapa langkah pencegahan.

Pertama, pengelola pusat perbelanjaan dan pasar tradisional menerapkan physical distancing dalam alur pelayanan untuk mencegah penularan infeksi Covid-19.

Kedua, pengelola pusat perbelanjaan dan pasar tradisional melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada karyawan dan pengunjung terhadap gejala, tanda, dan cara pencegahan penularan infeksi Covid-19.

Ketiga, menutup sementara pusat perbelanjaan dan pasar tradisional selama Idul Fitri sampai tujuh hari setelah lebaran, mulai tanggal 23 sampai 29 Mei 2020.

“Keempat, selama penutupan, pusat perbelanjaan dan pasar tradisional dilakukan pembersihan atau penyemprotan disinfektan,” terang Gatot, Jum’at, 22 Mei 2020.

Menurut Gatot, pemerintah akan terus melakukan evaluasi terhadap surat edaran tersebut sesuai dengan perkembangan penyebaran virus yang kail pertama diketahui di Provinsi Wuhan, Cina, pada Desember 2019 itu. (*f2)


Unduh: Surat Edaran Bupati, No. 800/511/35.09.331/2020

0FansSuka
0PengikutMengikuti
14,700PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Recent Posts

Block title