Paslon Salam-Ifan Menilai Program Paslon Faida-Vian Imajiner

JEMBER – Debat publik Pilkada Jember Tahap Kedua menarik perhatian masyarakat Jember. Debat publik paling seru yakni pada segmen ketiga yakni debat antar pasangan calon yang saling bertanya dan memberikan jawaban serta tanggapan.

Tema debat yang digelar di Surabaya kali ini yakni “Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan menyelesaiakan persoalan daerah”, yang berlangsung di televisi swasta pada, Minggu 22 November 2020 malam.

Perdebatan nampak tegang ketika paslon nomor 1 Faida-Vian berdebat soal ambulan desa, satu desa satu bis rakyat dengan lawan debat yakni paslon nomor 3 Salam-Ifan. “Kami ada program ambulan desa, kami juga akan siapkan 1 desa 1 bis rakyat. Bagaimana tanggapan paslon nomor 3, apa setuju dengan program kami ?,” tanya cawabup Vian.

Pertanyaan itu ditanggapi paslon nomor 3 Salam-Ifan dengan serius. “Program itu awalnya saja menarik, tapi program itu imajiner. Satu desa satu ambulan saja masalah, kok mau satu desa satu bis. Ada masalah pula, soal parkir ambulan desa saja sulit sekarang di rumah sakit,” timpal cawabup Ifan. “Yang jelas berdasarkan fakta di lapangan pelayanan ambulan desa ada biayanya dilakukan oleh oknum, silahkan di kroscek. Kita lebih memaksimalkan pelayanan kesehatan di Puskesmas Pembantu. Soal program 1 desa satu bus rakyat, yang saya bayangkan bagaimana parkirnya kalau bis itu ada di Silo dan wilayah pergunungan, padahal jalannya sangat sempit. Itu bis seperti apa ?, dari pada uang rakyat dihambur-hamburkan, lebih baik digunakan untuk program prioritas kerakyatan,” imbuh cabup Salam ikut menimpali.

Cabup Salam juga menjelaskan, fungsi ambulan desa itu sendiri masih patut dipertanyakan dan bukan merupakan solusi atas problem kesehatan masyarakat. “Masyarakat yang sakit tidak harus dibawah ke rumah sakit pakai ambulan desa, kita masih harus memasksimalkan puskesmas pembantu, tidak harus dibawa ke rumah sakit. Kalau ada orang sakit pusing atau sakit gigi tidak harus dibawa ke rumah sakit, cukup di Pustu. Apalagi dalam musim pandemi ini, secara psikologis ambulan sekaan menjadi hantu. Kita pertanyakan fungsi ambulan desa itu apakah sudah termanfaatkan secara baik atau tidak,” terangnya. Atas tanggapan itu, cabup Faida menggapi balik. “Yang jelas dari rumah ke Pustu itu perlu transportasi medis dan kami tetap tanpa pungli, foto Faida Muqit itu bukan kampanye,” ujar cabup Faida.

Debat yang tak kalah menarik juga ditunjukkan saat paslon nomor 2 Hendy-Gus Firjaun menjawab pertanyaan paslon nomor 1 soal program perbaikan rumah bagi warga miskin. “Jember tempatnya orang miskin dan pengangguran, kita akan verifikasi siapa yang berhak atas bantuan itu, jadi tidak salah sasaran. Sesuai slogan kami, mengembalikan haknya masyarakat Jember, namun tidak dikembalian secara sederhana, namun verfiikasi sesuai sasaaran,” kata cabup Hendy. “Soal kemiskinan, kita harus mencari akar masalah, bagaimana mengentaskan kemiskinan. Kami lebih merealisasikan program meningkatkan pereekonomian warga miskin,” timpal cawabup Gus Firjaun.

Debat publik pilkada Jember 2020 disiarkan langsung oleh televisi dan radio lokal se-Jember. Masing-masing pendukung paslon nampak menggelar nonton bersama debat publik tersebut. Ketua KPU Jember M Syai’in berharap debat publik ini bisa memberikan pendidikan politik pada masyarakat dan perbedaaa gagasan adalah hal yang biasa. “Kita mengajak partisipasi masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya pada hari Rabu 9 Desember, untuk datang ke TPS,” kata M Syai’in. (Min/Sid).