Wisata Kali Jampit, Digandrungi Wisatawan, Digemari Para Turis

Rumah Kuno di Kebun Jampit, Bondowoso.

Bondowoso– Hawa dingin meresap kulit. Udara segar merasuk ke nafas hingga membuat mata ini kembali segar menikmati pemandangan alam nan sejuk. Jalan yang terjal dan berkelok tajam pun luluh seiring keindahan hutan dan perkebunan alami. Itu sekelumit kesan awal para wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri ketika mengunjungi ke wisata agro milik PTPN XII yang terbentang mulai Bondowoso hingga Banyuwangi. Memasuki Kabupaten Bondowoso, tepatnya dilembah pegunungan Ijen, disana terdapat perkebunan Kebun Kalisat Jampit yang sarat dengan tanaman kopi dan strawberi.

Dari situ juga tampak dari kejauhan asap kawah Ijen yang berada pada 3.000 diatas permukaan laut dan sudah terkenal hingga ke luar negeri. Namun alam sekitar Kawan Ijen yakni wisata agro perkebunan ternyata juga tidak kalah menarik.

Selain sajian berupa tanaman kebun, disana juga terdapat Guest House Jampit 1927 bangunan Belanda serta kuliner berupa kentang madu yang tiada duanya. “Disini juga dikembangkan produksi Kopi Luwak yang berkualitas cita rasa tinggi untuk kualitas ekspor,” ujar Ardi Iriantono, salah seorang staf kebun akhir pekan lalu.

Di Kali Jampit ini wisata yang menonjol yakni Guest House atau dikenal warga kampung disana dengan sebutan Vila Pak Domo (Sudomo, mantan Pangkopkamtib era Suharto). Bangunan akrab dengan hawa tropis itu bahan konstruksinya didominasi dari batu dan kayu jati pilihan. Hawa di dalam rumah itu lumayan dingin, karena berada tepatnya 1.500 diatas permukaan laut.

Jadi Anda tidak perlu lagi memerlukan air conditioner sebagai pendingin udara. Namun jangan khawatir, untuksekedar menghangatkan badan, si koki dapur di Guest House itu sudah menyiapkan hidangan kuliner yang mantap. Apalagi kalau bukan kentang madu plus kopi arabikadan teh hangat. Camilan itu cukup sederhana yakni cukup menyediakan kentang yangbaru saja dikukus, kemudian diolesi dengan madu manis. Sajian itu bisa menambahkan roti yang juga diolesi madu sebagai pelengkap kulinernya.

Dengan daya tarik alam dan arsitektur khas itu, banyak wisatawan domestik dan luar negeri yang anjang sana. “Tujuan wisatawan yang ke kebun kami kebanyakan dari Perancis, Swedia, Belanda, Eropa dan Jerman. Selain kangen dengan peninggalan kebun Belanda, mereka juga nyaman merasakan hawa tropis alami disini,” katanya. Berdasarkan data kunjungan wisata sebelum pandemi covid-19, sampai pertengahan tahun lalu wisman domestik yang berkunjung ke Kebun Blawan, Wonosari dan Kaja mencapai ribuan orang baik dalam dan luar negeri. Tidak hanya itu, sekitar dua puluh kilometer dari Kebun Kali Jampit juga terdapat Kebun Blawan.

Bangunan itu cukup unik. Pondasi dibiarkan tampak satu meter diatas tanah dan mirip dengan tempat berteduh binatang. Kalau tidak salah,pondasi yang menggantung itu dibangun untuk menghindari binatang buas jika akan memasuki dalam rumah.

Bangunan dengan desain seperti itu juga bisa membuat suasana penghuni rumah tidak terlalu kedinginan dengan hawa sekitar yang mencapai 8 derajat Celcius saat tengah malam sampai pagi hari. Disamping rumah induk, disana juga dibangun penginapan untuk wisatawan manca negara yakni bernama Catimor 1894. Di sekitar rumah Kebun Blawan juga terdapat sejumlah obyekwisata berupa air terjun Damar Wulan berupa air dingin dan air panas hingga 40 derajat Celcius.

Selain itu terdapat hasil kebun berupa kacang makadamia dan kopi arabika. “Untuk bangunan eskotis yakni Catimor Home Stay Blawan dibangun sekitar 1894 dan memiliki lahan kebun sekitar 4.700 hektar,” katanya. Dia menambahkan, Home stay disana memiliki lebih dari 30 kamar berbagai kelas dengan bangunan kuno zaman Belanda yang memiliki kekhasan berupa adanya gorong-gorong dilantai dasar bangunan serasa sesuatu yangberbeda saat menginap disana.

Disana juga terdapat mikrohidro power dengan kincir air pembangkit tenaga listrik yang dibangun dengan kemiringan 40 derajat dengan kekuatan 250 KVA. Terdapat lahan strawberi sekitar 3 hektar, makadami 80 hektar. Di kebun itu konon terdapat peninggaan 3 laras dan 1 senjata pistol peninggalan zaman Belanda. “Kami juga menawarkan fasilitas naik kuda untuk ke beberapa tujuan wisata. Termasuk kuda tari yang biasa menyambut para tamu,” ujarnya. (p juliatmoko)